Minggu, 23 Oktober 2016



INDAHNYA DUNIA

Kupejamkan mataku sejenak
Ku rentangkan tanganku..
Daun yang menari
Begitu indahnya..
Bak taman surga
                                Awan berarak
                                Aku berdiri disini
                                Di atas gunung ini
                                Mempertaruhkan nyawa
                                Bertahan diatas gunung
                                Demi indahnya dunia.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Sejarah dan Kebudayaan Suku Mandailing




SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SUKU MANDAILING
1.      PENDAHULUAN

a.     Latar belakang
hal yang menjadi dasar bagi saya untuk membahas mengenai sejarah dan kebudayaan suku mandailing ialah karena suku ini memiliki khasanah budaya yang luar biasa dan unik baik dari segi adat istiadat nya, system marga nya, pakaian adatnya dan lain-lain. Tidak hanya itu, yang menjadi penggerak hati saya untuk membahas mengenai suku ini ialah karena suku ini juga menyimpan keunikan sejarah yang mungkin dapat membuka pikiran kita mengenai suku mandailing yang sebenarnya.
b.     Rumusan masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah saya ini ialah, 
1.     Apakah mandailing dan batak itu sama ? 
2.       Apakah mandailing itu suku atau etnis yang berdiri sendiri dan bukan merupakan sub etnis ?
c.     Tujuan pembahasan
Tujuan dari pembahasan saya ini ialah untuk membuka wawasan kita lebih luas lagi mengenai suku mandailing yang sebenarnya serta untuk menambah pengetahuan kita mengenai kebudayaan mandailing.

a.       Asal muasal nama mandailing
           Konon katanya, kata mandailing berasal dari kata mandeatau ibu dan hilang yang bermakna lenyap. Jadi arti dari kata mandailing ialah ibu yang hilang. Cerita atau nama tersebut didapat dari sumber berupa dongeng dan kisah sejarah masa lalu yang berlaku di tanah sumatera barat. Namun ada versi lain mengenai asal muasal nama mandailing, yaitu nama mandailing atau mandahiling diperkirakan berasal dari kata Mandala dan  holing , yang berarti sebuah wilayah kerajaan kalingga. Kerajaan Kalingga adalah kerajaan Nusantara yang berdiri sebelum Kerajaan Sriwijaya, dengan raja terakhir Sri Paduka Maharaja Indrawarman yang mendirikan Kesultanan Dharmasraya setelah di-Islamkan oleh utusan Khalifah Utsman bin Affan pada abad ke-7 M. Sri Paduka Maharaja Indrawarman adalah putra dari Ratu Shima. Sri Paduka Maharaja Indrawarman kemudian dibunuh oleh Syailendra, pendiri Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 itu juga. Dan selain daripada itu, juga terdapat pertanyaan apakah mandailing itu sama dengan batak ? pada masa colonial belanda,Dalam hal ini banyak sejarahwan asing menjadikan Mandailing menjadi sub etnis dari Batak mulai pada masa pemerintahan Belanda, padahal orang-orang Mandailing sendiri menolak untuk disatukan dalam etnis Batak dalam administrasi pemerintahan Belanda pada awal abad 20 lalu, yang dikenal sebagai riwayat tanah wakaf bangsa mandailing di soengai mati, medan pada tahun 1925, yang berlanjut ke pengadilan. Hingga akhirnya, berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia, Mandailing diakui sebagai etnis terpisah dari Batak, karena etnis Batak sendiri sebenarnya lebih muda dari etnis Mandailing berdasarkan silsilah yang diakui etnis Batak sendiri Tarombo si Raja Batak,- nenek moyang orang Batak, yang ibunya yang bernama Deak Boru Parujar berasal dari etnis Mandailing. Etnis Mandailing sendiri menurut silsilahnya berasal dari etnis Minangkabau.
b.      Adat istiadat
Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara-upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf pallawa, bentuknya tak berbeda dengan Aksara Minangkabau, Aksara Rencong dari Aceh, Aksara Sunda Kuna, dan akasara nusantara lainnya. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha(pustaka). Namun amat sulit menemukan catatan sejarah mengenai Mandailing sebelum abad ke-19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan tentang waktu yang baik dan buruk, serta ramalan mimpi.
c.       Adat pernikahan
Dalam pelaksanaan upacara adat pernikahan mandailing,biasanya diperlukan perlengkapan upacara adat, seperti sirih (napuran/burangir) terdiri dari sirih, sentang (gambir), tembakau, soda, pinang, yang semuanya dimasukkan ke dalam sebuah tepak. Lalu, sebagai simbol kebesaran (paragat) disiapkan payung rarangan, pedang dan tombak, bendera adat (tonggol) dan langit-langit dengan tabir.Adat pada suku Mandailing melibatkan banyak orang dari dalian na tolu, seperti mora, kahanggi dan anak boru. Prosesi upacara pernikahan dimulai dari musyawarah adat yang disebut makkobar/makkatai, yaitu berbicara dalam tutur sapa yang sangat khusus dan unik. Setiap anggota berbalas tutur, seperti berbalas pantun secara bergiliran. Orang pertama yang membuka pembicaraan adalah juru bicara yang punya hajat (suhut), dilanjutkan dengan menantu yang punya hajat (anak boru suhut), ipar dari anak boru (pisang raut), peserta musyawarah yang turut hadir (paralok-alok), raja adat di kampung tersebut (hatobangan), raja adat dari kambpung sebelah (raja torbing balok) dan raja diraja adat/pimpinan sidang (raja panusunan bulang).Setelah itu, dilaksanakan acara tradisi yang dikenal dengan nama mangupa atau mangupa tondi dohot badan. Acara ini dilaksanakan sejak agama Islam masuk dan dianut oleh etnis Mandailing dengan mengacu kepada ajaran Islam dan adat. Biasanya ada kata-kata nasihat yang disampaikan saat acara ini. Tujuannya untuk memulihkan dan atau menguatkan semangat serta badan. Pangupa atau bahan untuk mangupa, berupa hidangan yang diletakkan ke dalam tampah besar dan diisi dengan nasi, telur dan ayam kampung dan garam.Masing-masing hidangan memiliki makna secara simbolik. Contohnya, telur bulat yang terdiri dari kuning dan putih telur mencerminkan kebulatan (keutuhan) badan (tondi). Pangupa tersebut harus dimakan oleh pengantin sebagai tanda bahwa dalam menjalin rumah tangga nantinya akan ada tantangan berupa manis, pahit, asam dan asin kehidupan. Untuk itu, pengantin harus siap dan dapat menjalani dengan baik hubungan tersebut.

d.      Marga
Suku Mandailing sendiri mengenal paham kekerabatan, baik patrilineal maupun matrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang Mandailing mengenal marga. Di Mandailing hanya dikenal belasan marga saja, antara lain Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, dan Hutasuhut. Bila orang Batak mengenal pelarangan kawin semarga, maka orang Mandailing tidaklah mengenal pelarangan kawin semarga. Hal ini lah yang menyebabkan marga orang Batak bertambah banyak, karena setiap ada kawin semarga, maka mereka membuat marga yang baru. Di lain pihak orang-orang dari etnis Mandailing apabila terjadi perkawinan semarga, maka mereka hanya berkewajiban melakukan upacara korban, berupa ayam, kambing atau kerbau, tergantung status sosial mereka di masyarakat, namun aturan adat itu sekarang tidak lagi dipenuhi, karena nilai-nilai status sosial masyarakat Mandailing sudah berubah, terutama di perantauan.
e.       Bahasa suku mandailing
ada banyak ragam bahasa yang unik yang dimiliki oleh suku mandailing, namun kesemuanya itu dibedakan dalam penggunaan moment dan waktunya. Misal,
1. Hata somal                          : digunakan untuk obrolan sehari-hari
2. Hata andung                       : digunakan saat suasan duka
3. Hata teas dohot jampolak   : digunakan saat dalam keadaan marah
4. Hata sibaso                          : digunakan saat suasan magis/upacara adat
5. Hata parkapur                     : digunakan saat orang-orang sedang berada di dalam hutan
f.       tarian suku mandailing
tarian adat biasanya sering dipertontonkan pada saat upacara adat mandailing, dimana uning-uning dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi acara manortor.Dalam pelaksanaannya pelaku
 
or-Tor terdiri dari 2 (dua) kelompok yaitu: Kelompok Manortor yang berbaris di depan, yaitu: kelompok barisan Manortor adalah  barisan yang dihormati oleh barisan mangayapi seperti Mora dan Raja-Raja Adat) dan kelompok Pengayapi yang berbaris dibelakang. Pelaksanaan Tor Tor berdasarkan taraf atau kedudukan seseorang yang Manortor, yaitu :
1.      Tor Tor Suhut, Kahanggi Suhut, Mora dan Anak Boru.
2.      Tor-Tor Raja-Raja.
3.      Tor-Tor Raja Panusunan.
4.      tor-Tor Naposo Bulung
5.      Tor-Tor Sibaso.
Sudah tidak pernah lagi dilaksanakan karena tor-tor ini yang manortor harus manyarama atau kesurupan sehingga dinilai bertentangan dengan ajaran agama Islam).
g.      Pakaian adat pernikahan
Pada pernikahan adat mandailing, biasanya pengantin Mandailing menggunakan pakaian adat yang didominasi warna merah, keemasan dan hitam. Pengantin pria menggunakan penutup kepala yang disebut ampu-mahkota yang dipakai raja-raja Mandailing di masa lalu, baju godang yang berbentuk jas, ikat pinggang warna keemasan dengan selipan dua pisau kecil disebut bobat, gelang polos di lengan atas warna keemasan, serta kain sesamping dari songket Tapanuli. Sedangkan, pengantin wanita memakai penutup kepala disebut bulang berwarna keemaasan dengan beberapa tingkat, penutup daerah dada yaitu kalung warna hitam dengan ornamen keemasan dan dua lembar selendang dari kain songket, gelang polos di lengan atas berwarna keemasan, ikat pinggang warna keemasan dengan selipan dua pisau kecil, dan baju kurung dengan bawahannya songket.

KESIMPULAN
 Berdasarkan pada pembahasan kita diatas, terjawab sudah rumusan masalah kita bahwa pada dasarnya orang mandailing menolak untuk disamakan dengan orang batak dan hal ini sudah pernah terjadi pada masa colonial belanda. Permasalahan ini pun juga telah diputuskan oleh pengadilan hindia belanda di Batavia pada tahun 1925 yang menyatakan bahwa mandailing ialah etnis yang terpisah dari batak.
 
sumber : 
 
  1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. ISBN 9812302123.
  2. ^ viva.co.id Didata Malaysia, Tor-tor Tetap Milik Tapanuli
  3. ^ a b c d e Abdur-Razzaq Lubis. Mandailing-Batak-Malay: A People Defined and Divided. In: 'From Palermo to Penang: A Journey into Political Anthropology', University of Fribourg, 2010.
  4. ^ a b c d Masri Singarimbun (1975). Kinship, Descent, and Alliance Among the Karo Batak. University of California Press. ISBN 0-5200-2692-6.
  5. ^ Abdul-Razzaq Lubis and Khoo Salma Nasution. Raja Bilah and the Mandailings in Perak: 1875–1911. Kuala Lumpur: Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (MBRAS), 2003.
  6. ^ Leonard Y. Andaya (2002). "The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the 'Batak'". KITLV. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2 Maret 2012. Diakses tanggal 26 Oktober 2015.
  7. ^ Mandailing Online
  8. ^ "Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman dan Belanda". detikcom. 15 November 2010. Diakses tanggal 26 Oktober 2015.