Toraja
1. PENGERTIAN
SUKU TORAJA
Suku Toraja adalah suku yang
menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Mayoritas suku
Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan
animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah
mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Kata toraja
berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang
berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja
pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat
tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa
sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung
selama beberapa hari.
2.
LETAK SUKU TORAJA
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu dari 23
kabupaten yang ada di propinsi Sulawesi Selatan yang terletak diantara
2º20´sampai 3º30´ Lintang Selatan dan 119º30´ sampai 120º10´ Bujur Timur.
"Ibukota" Tator yakni kota kecil Rantepao adalah kota yang dingin dan
nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar di Sulsel yakni sungai Sa'dan, sungai
inilah yang memberikan tenaga pembangkit listrik untuk menyalakan seluruh
Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa Toraja disebut bahasa Tae oleh Van Der
Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani dan Kruyt menyebutnya
Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 3.205,77
km² atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan, yang meliputi 15 (lima
belas) kecamatan. Jumlah penduduk pada tahun 2001 berjumlah 404.689 jiwa yang
terdiri dari 209.900 jiwa laki-laki dan 199.789 jiwa perempuan dengan kepadatan
rata-rata penduduk 126 jiwa/km² dan laju pertumbuhan penduduk rata-rata
berkisar 2,68% pertahun.
3.
BAHASA
Bahasa Toraja adalah bahasa
yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek bahasa yang
utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan
digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua
sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara
lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala',
dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia
dari bahasa Austronesia. Pada mulanya,
sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam
bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja,
beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses
transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab
utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.
Ciri yang menonjol dalam bahasa
Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian. Acara kematian di Toraja
telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan duka cita dan proses
berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja mempunyai banyak
istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan mental.
Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara jelas
menunjukkan pengaruh dari peristiwa kehilangan seseorang hal tersebut
kadang-kadang juga ditujukan untuk mengurangi penderitaan karena duka cita itu
sendiri.
4.
KEBUDAYAAN TONGKONAN
Tongkonan adalah
rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan
ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal
dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja.
Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan
spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut
serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.
Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat
tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan
menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan
dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.
Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat
"pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga
yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota
keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan
semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang
menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang
biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.
5.
UKIRAN KAYU
Ukiran kayu Toraja:
setiap panel melambangkan niat baik. Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak
memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku
Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau
"tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya
Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya
adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air
seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan
kesuburan.
Panel tengah bawah
melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga
memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah
harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian,
seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas
dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak
cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini
juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan
hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam
ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja
juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen
Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen
Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur
matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan
taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen
geometris.

6.
ADAT UPACARA PEMAKAMAN
Di Tana Toraja tradisi menghormati kematian dikenal dengan
upacara Rambu Solo'. Persamaan dari ketiganya: ritual upacara kematian dan
penguburan jenazah. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar
yaitu Rambu Solo' dan Rambu Tuka. Rambu Solo' merupakan upacara penguburan,
sedangkan Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau
yang baru saja selesai direnovasi.
Rambu Solo' merupakan acara tradisi
yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk
merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari
mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa
sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian
atas tebing di ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To
Dolo (kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani
dan Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah
tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.
Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya
berbeda-beda. Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan
dipotong untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang
bukan bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24
sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan
menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara
sekitar 3 hari.
Tapi,
sebelum jumlah itu mencukupi jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di
tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di
Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah
dapat menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam
kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak
keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.
7.
PAKAIAN
TRADISIONAL
pakaian adat dan
tarian - Baju adat Toraja disebut Baju Pokko' untuk wanita dan seppa tallung
buku untuk laki-laki. Baju Pokko' berupa baju dengan lengan yang pendek.
Sedangkan seppa tallung buku berupa celana yang panjangnya sampai dilutut.
Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, seperti kandaure, lipa',
gayang dan sebagainya.
Pakaian adat
Toraja yang telah dimodifikasi dan dikenakan oleh Johanica Yanuar, duta
Indonesia dalam ajang Manhunt International 2011 yang digelar di Korea
Selatan), menarik perhatian penonton yang berasaldari 48 negara.
8.
TARIAN
TRADISIONAL
Tarian Manganda' ditampilkan
pada ritual Ma'Bua‘
Seperti di masyarakat agraris
lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma'bugi
dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma'gandangi
ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang,
misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti
oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan
bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya
bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang
penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling
pohon suci.
9.
ALAT MUSIK
TRADISONAL
Musik tradisional Toraja meliputi Passuling, Pa’pelle, dan
Pa’pompang. Musik tersebut pada umumnya terbuat dari bahan baku alam, seperti
bambu, batang padi, daun enau, dan tempurung kelapa yang dimainkan pada upacara
adat.
Pa’suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti
pada tarian Ma’bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria
yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Pa’pelle dimainkan
pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.
10. MAKANAN KHAS TORAJA
·
Pa'piong
Makanan ini biasanya terbuat
dari daging babi, ayam, ikan dan beras cara masanya tinggal masukkan daging
yang telah dibumbui kedalam bambu kemudian dibakar.
·
Pantollo’pamarasan
Pantollo’ pamarasan merupakan
masakan khas Toraja yang terbuat dari daging babi yang diolah dengan pamarasan
(rawon) yang dicampur dengan sedimikian rupa menggunakan rempah-rempah khas
Toraja.Makanan ini biasanya disajikan dalam acara-acara adat masyarakat Toraja.
·
Deppa Tori'
Makanan ini merupakan kue khas Tana Toraja selain bentuknya yang
unik, rasanya juga tidak kalah dengan Kue dari Kuliner lainnya.















